PALEMBANG – Di usia yang masih tergolong muda, sosok wanita bernama lengkap Maya Puspita Sari ini sudah memiliki tanggung jawab besar. Puluhan guru dan ratusan murid terkontrol di bawah pengawasannya. Sejak tahun 2013, Maya, begitu ia biasa disapa, dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Islam Khalifah Annizam Palembang.

Setelah tamat kuliah tahun 2009, lulusan FKIP Bahasa Inggris Universitas PGRI Palembang ini mengawali karir sebagai guru di sebuah bimbingan belajar yang namanya sudah terkenal di Indonesia. Tahun 2010, salah seorang teman mengajak Maya bergabung di TK Khalifah 16 di daerah Kebun Bunga, Palembang. Setelah mengikuti serangkaian tes, Maya akhirnya diterima menjadi guru TK Khalifah 16.

Tahun 2013, yayasan pemilik TK Khalifah 16 memiliki keinginan untuk membuka sekolah dasar, yakni Sekolah Dasar Islam Khalifah Annizam Palembang. Maya dan 3 orang temannya dikirim ke Serang untuk mengikuti pelatihan.

Sepulangnya dari Serang, Maya mengaku terkejut karena tiba-tiba ia dipercaya memegang jabatan sebagai kepala sekolah SD Islam khalifah Annizam Palembang. Tentu tidak pernah terbersit dalam benak Maya, saat itu akan menjadi kepala sekolah di usia 26 tahun. Umur yang tergolong masih sangat muda.

“Waktu beberapa hari di Serang saya pikir hanya pelatihan biasa. Saya memang sempat disuruh mengerjakan beberapa tes seperti psikotes, ada juga pengetahuan umum, akademik dan lainnya. Tetapi saya gak menyangka kalau ternyata itu merupakan salah satu serangkaian tes yang harus saya jalani sebagai kandidat kepala sekolah. Menurut ketua yayasan khalifah Annizam, nilai saya tertinggi saat itu,” tutur wanita kelahiran 3 Juni 1987 ini.

Awal mulanya ketika dipercaya memegang jabatan kepala sekolah, Maya mengaku ragu dan tidak percaya diri. Pasalnya, mendapat amanah besar seperti itu tentu bukan hal yang mudah dan butuh tanggung jawab yang besar. Apalagi masih banyak kandidat lain yang usianya jauh di atas Maya. Namun dukungan keluarga akhirnya membuat Maya optimis dan membulatkan tekad untuk melakukan tugasnya menjadi kepala sekolah dengan baik.

“Awalnya saya gak pede dan ingin mundur. Tapi orang tua selalu memberi semangat. Ayah saya bilang saya harus berani mencoba. Ketika kita tidak berani menerima suatu tantangan, otomatis kita gak akan pernah tau rasanya seperti apa dan hasil ke depannya akan bagaimana. Ujung-ujungnya jadi menyesal. Lagipula menurut ayah saya, kesempatan gak akan datang dua kali,” jelas Maya.

Tahun pertama merupakan masa-masa terberat bagi Maya. Memiliki sifat pemalu terkadang membuat Maya gugup jika harus tampil di hadapan banyak orang. Apalagi ketika ada acara-acara di luar sekolah yang mengharuskannya bertemu dengan banyak orang.

“Saya ini sebetulnya pemalu. Jadi waktu itu sempat terkendala di public speaking. Awalnya gugup dan panik kalau harus berbicara di hadapan orang banyak. Sedangkan kepala sekolah pasti jadi orang pertama yang mewakili sekolah untuk tampil di berbagai acara. Misalnya kasih kata sambutan atau memimpin doa. Disitu saya bertekad untuk berubah. Saya rajin berlatih dan belajar berani tampil di hadapan banyak orang. Akhirnya lama-lama terbiasa dan gak canggung lagi tampil di muka umum,” ungkap lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Terbuka ini.

Menariknya, ketika ada acara perkumpulan kepala sekolah sekota Palembang, ternyata Maya bertemu dengan kepala sekolah yang merupakan gurunya di Sekolah Dasar dan saat ini menjadi rekan sesama kepala sekolah. Walaupun sempat terkejut, beliau mengaku bangga dan ikut senang dengan kesuksesan yang berhasil diraih Maya di usianya yang tergolong muda. Hingga saat ini, Maya masih menjadi kepala sekolah termuda di Kota Palembang.

Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan kerja guru dan staf merupakan salah satu tugas pokok sebagai kepala sekolah. Tujuannya adalah untuk menjamin agar guru dan staf bekerja dengan baik serta menjaga mutu proses maupun hasil pendidikan di sekolah. Untuk itu harus diciptakan lingkungan dan suasana kerja yang kondusif.

Sebagai seorang pemimpin yang baik, Maya harus bisa menempatkan diri secara adil dan objektif. Terlebih ia dikelilingi dengan puluhan orang yang memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Untuk mengatasi hal tersebut, Maya mengaku memiliki trik tersendiri dalam berinteraksi dengan rekan-rekan di dalam timnya.

“Di dalam kehidupan sosial, sesekali pasti akan timbul konflik. Untuk mengatasinya, saya selalu berusaha menjadi pendengar dan penengah yang baik. Misalnya si A datang kepada saya komplain tentang ini dan itu, jangan didebat. Sebisa mungkin saya menghindari perdebatan. Lalu misalkan si B memberi masukan ke saya baiknya sekolah begini atau begitu. Biasanya saya diam dulu mendengarkan cerita mereka sampai selesai. Setelah itu baru memberikan solusi atau meminta waktu untuk menjawab jika dirasa saya belum bisa memberikan informasi yang tepat, karena saya bukan tipikal orang yang suka memberikan informasi abu-abu, dalam artian belum jelas kepastiannya,” tutur wanita berusia 34 tahun ini.

Maya mengaku bersyukur karena sampai saat ini ia diberi tim yang kompak dan solid. Menurut Maya, dirinya mampu meraih kesuksesan memimpin SD Islam Khalifah Annizam selama 11 tahun sampai saat ini juga tentunya tak lepas dari suport rekan-rekan satu timnya.

Maya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para wali murid yang sudah mempercayakan anak-anaknya bersekolah di SD Islam Khalifah Annizam Palembang. Ia berharap SD Islam Khalifah Annizam Palembang bisa menjadi sekolah pencetak generasi pemimpin muslim dunia.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala sekolah, Maya tentu harus pintar membagi waktu untuk keluarga. Tips dari Maya mungkin bisa diterapkan oleh ibu-ibu bekerja lainnya.

“Sebagai ibu bekerja, kita harus pintar menempatkan posisi di waktu yang tepat. Kalau sudah pulang ke rumah, berarti harus fokus dengan anak-anak dan urusan rumah. Ajak anak-anak kita ngobrol, bercerita, jalin komunikasi dan interaksi yang baik dengan anak agar mereka gak kehilangan sosok kita sebagai orang tua. Urusan pekerjaan sementara tinggalkan dulu. Jadi jangan sampai terbalik. Di rumah masih mikirin pekerjaan, nanti setelah sampai di kantor justru mikirin anak,” pungkas wanita yang memiliki tiga orang buah hati ini.

.

Sumber: beritaind.com