“Wah, ada orang sukses. Saya mau foto bareng ah. Biar rezekinya nular.”
“Wuih, kamu closing 2.000 pieces ya. Salaman dulu. Semoga rezekinya nular.”
“Wow, kamu jualan 1.000 pieces ya. Senangnya. Semoga rezekinya nular.”
.
Mungkinkah rezeki itu nular? Ternyata sangat mungkin.
Berbagai literatur dan pengalaman menjelaskan bahwa emosi bisa menular, walaupun kedua pihak nggak saling mengenal. Ini menurut Elaine Hatfield et. al. (1993). Dan menurut Judy Ho, PhD, seorang psikolog dari California, emosi memang menular karena kita itu makhluk sosial yang merespons lingkungan kita.
.
Begitulah, emosi itu menular. Dan sayangnya, emosi negatif lebih mudah menular daripada emosi positif. Satu lagi, pengalaman buruk di masa lalu akan menghasilkan energi negatif dan sangat mudah tersebar pada orang lain. Duh! Artinya, kita harus extra hati-hati memilih tim dan ekosistem.
.
Berdasarkan penelitian Susan Lucia Annunzio dan timnya di Hudson High Performance, terhadap 3000 pekerja lebih, ternyata berbagi rahasia sukses dari grup terbaik dengan grup-grup lain bisa menularkan kesuksesan. Nggak heran, dia memang penulis buku Contagious Success (Sukses Yang Menular).
.
Ingat, saat kita mengagumi seseorang dan RIDHA dengan pencapaiannya, sebenarnya itu adalah doa dan sugesti bagi kita agar bisa mencapai hal serupa. Boleh dibilang, sukses itu nular.
.
GIMANAPUN, pencapaian itu Allah yang ngasih. Dengan kata lain, saat kita ridha dengan pencapaian orang lain, itu adalah bukti iman kita. Dan insya Allah akan memudahkan pencapaian kita juga.
Apalagi saat kita berdoa diam-diam untuk orang itu, maka malaikat seketika mengaminkan doa yang sama untuk kita. Jelas sudah, rezeki itu nular.
Tapi, yang sebaliknya juga bisa terjadi kalau kita DENGKI. Seperti yang sering saya ingatkan, hindari 3D penghalang rezeki, yaitu dengki, dendam, dan dongkol.
Pesan guru saya, “Begitu melihat orang lain menikmati sesuatu, sudah sepantasnya kita ikut happy dan merasa terinspirasi. Itu artinya kita menerima ketetapan Illahi. Dan selain itu, akan mengundang nikmat serupa bagi kita, mungkin sekarang mungkin nanti. Nah, beda ceritanya kalau kita sampai iri dan dengki.”
.
.
IPPHO SANTOSA – Founder Jaringan Sekolah Khalifah